Click here to load reader

Universum Simbolik Orang Banjar

  • View
    748

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Universum Simbolik Orang Banjar

ISLAM DAN UNIVERSUM-SIMBOLIK URANG BANJAR Oleh: Irfan Noor

Abstract: One of significant role of religion in society is to provide instruments of legitimation for involvement of man in society. Without this legitimation, man always will be "marginalized" from his involvement in society as social creature. This is what every religion wants to show in every social and historical strata and what Islam has done with Banjarese society. The choice of religion as basic identity of Banjarese society is an effort to legitimate their social existence as ethnic-group among the others.

Persoalan interaksi Islam dengan budaya, termasuk budaya Banjar, pada intinya melibatkan suatu pertarungan atau setidaknya ketegangan antara doktrin agama yang dipercaya bersifat absolut karena berasal dari Tuhan, dengan nilai-nilai budaya, tradisi, adat istiadat yang merupakan produk manusia, sehingga selalu tidak selaras dengan ajaran-ajaran Ilahiyah. Hal ini bisa terjadi lantaran ketika agama memberikan manusia sejumlah konsepsi mengenai konstruksi realitas yang didasarkan bukan pada pengalaman empiris kemanusiaan melainkan dari otoritas ketuhanan, maka pada saat yang bersamaan konstruksi realitas transenden itu bagi manusia bukan satu-satunya paradigma yang membentuk atau mempengaruhi manusia. Manusia, melalui kemampuan nalar yang menghasilkan pengetahuan atau bahkan dari pengalaman empirisnya, membangun konstruksi realitasnya sendiri, yang mungkin berbeda (vis-a-vis) dengan agama. (vis-a-vis)

Irfan Noor adalah dosen fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin. Alumnus program studi Ilmu Filsafat Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini juga aktif sebagai staf peneliti di Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK-3) Banjarmasin.

1

Konstruksi realitas yang bersifat kemanusiaan inilah yang kemudian dikenal sebagai tradisi, adat atau secara umum disebut budaya kemanusiaan. Tradisi atau adat ini, tentu saja, dapat dipengaruhi oleh konstruksi realitas transenden tadi melalui interaksi tertentu. Namun demikian, ketegangan tercipta ketika kedua bentuk konstruksi realitas itu bersikukuh mempertahankan eksistensi masing-masing. Sebaliknya, ketegangan itu menyusut ketika salah satu pihak memberikan akomodasi kepada pihak lainnya. Dilihat dari segi ini, maka ketegangan yang terjadi di dalam interaksi Islam dengan budaya boleh jadi bersifat perennial, terus berkelanjutan. Bahkan, pertarungan atau setidaknya ketegangan antara agama dengan budaya telah menjadi gejala universal semua masyarakat yang secara sengaja membangun sistem religinya lewat akomodasi terhadap produk sistem kepercayaan yang ada di luar proses internal kebudayaan setempat. Membaca kerangka pikir demikian, tentunya, sangat menarik jika refleksi ini diturunkan untuk membaca interaksi dan akomodasi Islam dengan kebudayaan dalam masyarakat Banjar. Menarik lantaran Islam, yang menjadi sumber pertarungan atau ketegangan tersebut, diasumsikan oleh banyak pakar, telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad silam.1 Menariknya lagi, akomodasi masyarakat Banjar yang begitu rupa terhadap Islam tidak justru menyurutkan adanya dinamika pertarungan atau ketegangan antara keduanya. Mengapa demikian ? Tentunya, penelisikan atas masalah ini akan menjadi penting sebagai suatu usaha untuk memahami kembali bagaimana interaksi dan akomodasi Islam dengan budaya secara lebih spesifik dalam konteks masyarakat Banjar. Manusia dan Masyarakat Berbicara tentang interaksi dan akomodasi agama dengan budaya dalam sebuah masyarakat yang dikaitkan dengan titik-tolak identifikasi sosialnya, pada dasarnya, berbicara tentang apa yang menjadi dasar-pijak masyarakat itu dalam mempertahankan kelangsungan dan kohesivitas eksistensinya di tengah-tengah entitas komunitas lainnya. Oleh karena itu, jika memang penelisikan ini ditujukan untuk mengungkap problem dasar pijak suatu masyarakat dalam rangka memperjelas pola interaksi dan akomodasi agama dan budaya, maka sesungguhnya penelisikan ini, mau tidak mau, akan bersinggungan dengan persoalan hakikatAlfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar; Diskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar, (Jakarta: Rajawali Press, 1997), hlm. 504.1

2

masyarakat itu sendiri. Mengapa penelisikan ini harus bermuara demikian ? Jawabannya tidak lain, sebagaimana yang diungkapkan oleh Peter L. Berger,2 menyangkut hakikat masyarakat itu yang bersifat konstruktif (socially constructed). Hal ini karena masyarakat bukanlah sesuatu yang hadir secara alamiah dan tumbuh dari suatu esensinya yang ontologis, namun merupakan buatan, konstruksi, dan dan produk manusia sendiri, yang hanya ada sebagai produk aktivitas manusia.3 Dengan kata lain, masyarakat ada lantaran untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia itu sendiri yang diciptakan dalam keadaan yang belum selesai. Oleh karena itulah, masyarakat tidak merupakan bagian dari kodrat alam, dan tidak dijabarkan dari hukumhukum alam. Dalam konteks inilah, Berger lalu menandaskan suatu karakter dari masyarakat manusia yang menjadi inti dari realitas dunia sosial manusia, sebagai berikut: Masyarakat terdiri dan diselenggarakan oleh manusia yang melakukan aktivitas. Polapolanya selalu berhubungan dengan ruang dan waktu, tidak tersedia di alam, tidak juga bisa disimpulkan secara apa pun dari hakikat manusia.4 Oleh karena masyarakat itu pada hakikatnya bersifat konstruktif, maka tidak aneh kemudian jika diasumsikan bahwa kebudayaan yang terstruktur dalam masyarakat juga tidak pernah memiliki stabilitas yang kokoh sebagaimana dunia alamiah. Watak inheren dari dunia sosial adalah perubahan. Asumsi ini tampak sekali dari penjelasan Berger sebagai berikut: Kebudayaan ... tetap merupakan sesuatu yang sangat berbeda dari alam justru karena merupakan hasil dari aktivitas manusia sendiri ... Karena itu strukturnya secara inheren adalah rawan dan ditakdirkan untuk berubah ....5 Jika problem watak masyarakat yang bersifat konstruktif (socially constructed) ini ditelaah lebih jauh secara filosofis berdasar teori Universum Simbolik yang dibangun Peter L. Berger, maka titik-tolak problem ini tidak lain ada pada hakikat manusia itu sendiri. Mengapa titiktolaknya ada di sana ? Jawabnya, menurut Berger, karena hakikat manusia itu sendiri tidaklah dibentuk dari suatu substratum yang mendasari kodratnya, namun diandaikan atas eksistensiPenulis mengucapkan ribuan terima kasih kepada Prof. Dr. M. Amin Abdullah dan Prof. Dr. Michel Sastrapratedja, SJ., yang semasa penulisan tugas akhir untuk memperoleh gelar magister di bidang Ilmu Filsafat, penulis mendapatkan bimbingan yang tak ternilai harganya dalam memahami keseluruhan struktur pemikiran Peter L. Berger. 3 Peter L. Berger & Thomas Luckmann, Peter L. Berger & Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, (New York: Anchor Books, 1967), hlm. 52. 4 Peter L. Berger, The Sacred Canopy: Element of a Sociological Theory of Religion, (New York: Anchor Books, 1969), hlm. 7. 5 Peter L. Berger, The Sacred Canopy , hlm. 6.2

3

yang sadar akan dunia. Secara fenomenologis, eksistensi yang dikonsepsikan oleh Berger di sini, tentunya, mengandung arti ontologis, yakni suatu keterlibatan di-dalam-dunia. Hanya melalui keterlibatan di-dalam-dunia inilah kehadiran manusia dapat bermakna menjadi manusia.6 Artinya, manusia dalam konteks tersebut secara terus menerus harus melakukan suatu proses eksternalisasi diri, yang tidak lain merupakan proses bereksistensi secara sosial. Oleh karena itulah, kedirian manusia tidaklah bermakna Aku yang terisolasi, tetapi Aku yang selalu melibati dunia. Berger merumuskan ungkapan ini sebagai berikut: ... tidak ada kodrat (nature) insani dalam arti suatu substratum yang telah ditetapkan secara biologis dan yang menentukan keanekaragaman bentukan-bentukan sosiokultural. Yang ada hanyalah kodrat insani dalam arti konstanta-konstanta antropologis ... yang membatasi dan memungkinkan bentukan-bentukan sosio-kultural manusia. Tetapi bentuknya yang khusus dari keinsanian itu ditentukan oleh bentukanbentukan sosio-kultural itu dan berkaitan dengan variasi-variasinya yang sangat banyak itu. Sementara bisa saja dikatakan bahwa manusia mempunyai kodrat, adalah lebih berarti untuk mengatakan bahwa manusia mengkonstruksi kodratnya sendiri; atau lebih sederhana lagi, bahwa manusia menghasilkan dirinya sendiri.7 Dalam konteks inilah, pertama-tama, bisa dipahami bahwa keterlibatan di-dalamdunia bagi manusia merupakan keharusan antropologis. Keberadaan manusia tidak mungkin berlangsung dalam suatu lingkungan interioritas yang tertutup dan tanpa gerak. Keberadaan manusia harus terus-menerus mengeksternalisasikan diri dalam aktivitas.8 Asumsi ini, tentunya, jika dilihat melalui perspektif Heidegger menunjukkan ciri hakiki dari manusia yang paling umum, yakni ada-di-dalam-dunia. Ada-di-dalam, dalam perspektif eksistensialisme, menunjukkan bahwa kedirian manusia sangat ditentukan oleh bentuk keterlibatannya dengan dunia. Tidak ada cara berada manusia yang dapat digambarkan tanpa keterlibatannya dengan dunia.9 Heidegger menyatakan hal ini sebagai berikut: Dunia Dasein (manusia) adalah suatu dunia-bersama (mitwelt). Ada-di-dalam adalah Ada-bersama yang lain. Dengan demikian, ada-dalam-diri-mereka-sendiri dalam dunia adalah Dasein-bersama (mit Dasein).10William A. Luijpen, William A. Luijpen, O.S.A., Existential Phenomenology, translt. by Albert Dondeyne, (New York: Duquesne Univ. Press, 1960), hlm. 19. 7 Peter L. Berger & Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality, hlm. 49. 8 Peter L. Berger, The Sacred Canopy, hlm. 70. 9 Martin Heidegger, Being and Time, translt. by John Macquarrie & Edward Robinson, (San Fransisco: Harper, 1962), hlm. 365. 10 Martin Heidegger, Being and Time, hlm. 155.6

4

Ada-di-dalam-dunia di sini, tentunya, bagi manusia bukan merupakan ada-yangpasif, namun justru merupakan ada-yang-aktif. Oleh karena itu, sudah barang tentu, keaktivan ini m

Search related