D 15 & 16

  • Published on
    08-Oct-2015

  • View
    42

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Laprak Scilog

Transcript

  • LAPORAN PRAKTIKUM SUPPLY CHAIN AND LOGISTICS

    BEERGAME

    Disusun Oleh: Kelompok 15 & 16

    Adolfina P. Moningka 12/333437/TK/39798

    Aulia Bayu Murti 12/333514/TK/39865

    Grace Oktaviani 12/329949/TK/39150

    Hana M. Siahaan 12/333614/TK/39960

    Mutamima Aulia Sani 12/329337/TK/39001

    Nurul Hakiki 12/329797/TK/39060

    Alberdo Latama 12/333669/TK/40012

    Elizabeth Shinta Putri 12/333833/TK/40175

    Farel Fegasanto 12/330307/TK/39483

    Irfan Aufa 12/330190/TK/39375

    Ni Putu Aprita R. Gayatri 12/329974/TK/39170

    Sarah Faudah 12/333846/TK/40188

    PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

    JURUSAN TEKNIK MESIN DAN INDUSTRI

    FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA

    YOGYAKARTA

    2014

  • ii

    DAFTAR ISI

    HALAMAN COVER i

    DAFTAR ISI ii

    DAFTAR GAMBAR iv

    DAFTAR TABEL v

    BAB I PENDAHULUAN 1

    1.1 Latar Belakang 1

    1.2 Tujuan Praktikum 2

    1.3 Manfaat Praktikum

    BAB II LANDASAN TEORI 3

    2.1 Pengertian Beergame 3

    2.2 Mekanisme Beergame 3

    2.3 Bullwhip Effect 4

    2.4 Centralized Demand Information 6

    2.5 Decentralized Demand Information

    BAB III PEMBAHASAN 9

    3.1 Hasil Praktikum 9

    3.1.1 Stage Retailer

    3.1.2 Stage Wholesaler

    3.1.3 Stage Distributor

    3.1.4 Stage Factory

    3.2 Pembahasan 9

    3.2.1 Soal 1 9

    3.2.2 Soal 2 9

  • iii

    iii

    BAB IV PENUTUP 10

    4.1 Kesimpulan 11

    4.2 Saran 12

    DAFTAR PUSTAKA 26

    DAFTAR LAMPIRAN

  • iv

    iv

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1 Beergame 3

    Gambar 2.2 Komponen Suatu Stage 5

    Gambar 2.3 Bullwhip Effect 10

    Gambar 3.1 Illustrasi Aliran dalam Suatu Sistem Rantai Pasok 11

  • v

    v

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1 Playsheet Stage Retailer dengan Tidak Terkoordinasi 7

    Tabel 3.2 Playsheet Stage Distributor dengan Tidak Terkoordinasi 17

    Tabel 3.3 Perbandingan Terkoordinasi dengan Tidak pada Retailer 21

    Tabel 3.4 Playsheet Stage Wholesaler dengan Tidak Terkoordinasi

    Tabel 3.5 Playsheet Stage Wholesaler dengan Tidak Terkoordinasi

    Tabel 3.6 Perbandingan Terkoordinasi dengan Tidak pada Wholesaler

    Tabel 3.7 Playsheet Stage Distributor dengan Tidak Terkoordinasi

    Tabel 3.8 Total Biaya pada Stage Distributor dengan Tidak Terkoordinasi

    Tabel 3.9 Playsheet Stage Distributor dengan Tidak Terkoordinasi

    Tabel 3.10 Total Biaya pada Stage Distributor dengan Terkoordinasi

    Tabel 3.11 Playsheet Stage Factory dengan Tidak Terkoordinasi

    Tabel 3.12 Playsheet Stage Factory dengan Terkoordinasi

  • 1

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Supply Chain Management (SCM) merupakan salah satu strategi yang

    digunakan oleh perusahaan untuk membuat rantai pasok menjadi lebih efisien.

    Supply chain merupakan kumpulan dari rantai-rantai yang dilalui suatu barang

    (produk) mulai dari bahan baku sampai menjadi produk yang akan dijual kepada

    konsumen atau pengguna akhir.

    Supply chain management berkaitan pada pengambilan keputusan, dimana

    seorang manajer harus mampu mengambil keputusan yang tepat yaitu pada saat

    kapan produk di pesan dan pada saat kapan produk yang dipunyai perusahaan harus

    dihantarkan.

    Penerapan SCM dapat di simulasikan dengan permainan Beergame.

    Permainan ini biasa dimainkan secara manual atau tanpa menggunakan software.

    Tujuan permainan ini adalah untuk memenuhi permintaan pelanggan. Dalam

    permainan ini, kasus yang diambil adalah produk bir dengan menggunakan suatu

    multi-stage supply chain dengan pembelanjaan minimum dalam back order dan

    inventory.

    1.2 Tujuan

    1. Memberikan pemahaman tentang bagaimana berpikir secara sistem

    dalam kaitannya dengan rantai pasok.

    2. Memberikan pengetahuan tentang perlunya koordinasi dalam upaya

    meningkatkan performansi dari sebuah sistem rantai pasok.

    3. Memberikan pemahaman tentang pentingnya sistem informasi yang

    selalu terkoordinasi antar stages dalam rantai pasok

  • 2

    2

    1.3 Manfaat

    1. Praktikan dapat memahami tentang bagaimana berpikir secara sistem

    dalam kaitannya dengan rantai pasok.

    2. Praktikan dapat mengetahui tentang perlunya koordinasi dalam upaya

    meningkatkan performansi dari sebuah sistem rantai pasok.

    3. Praktikan memahami tentang pentingnya sistem informasi yang selalu

    terkoordinasi dalam rantai pasok.

  • 3

    3

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1 Pengertian Beer Game

    Beer game merupakan suatu latihan yang mengilustrasikan dinamika dari

    rantai pasok (Jacobs, 2000). Beer game merupakan suatu manajemen simulasi

    dalam suatu sistem rantai pasok (Sterman, 1989). Simulasi ini berbentuk permainan

    yang dimainkan beberapa orang yang memiliki peran sebagai factory, distibutor,

    wholesaler, dan retailer. Simulasi permainan ini ditemukan oleh Prof. John D.

    Sterman pada tahun 1989. Simulasi permainan ini menggunakan produk beer

    sebagai produk dalam aliran permainannya, sehingga permainan ini sering disebut

    dengan beer game.

    Gambar 2.1 Beer Game

    Pada gambar diatas terlihat terdapat beberapa stage penyusun. Stage-stage

    yang ada di permainan ini memiliki fungsi masing-masing, seperti:

    a. Factory berperan sebagai stage yang memproduksi produk dan memenuhi

    permintaan dari distibutor.

    b. Distributor sebagai stage yang berperan untuk memenuhi permintaan

    wholesaler.

    c. Wholesaler sebagai stage yang berperan sebagai pemenuh permintaan

    retailer.

    d. Retailer sebagai stage yang berperan dalam pemenuhan permintaan

    konsumen.

  • 4

    4

    Diantara stage-stage tersebut terdapat kotak delay, yang berfungsi sebagai

    tempat peletakkan kartu delivery. Kartu ini berfungsi sebagai simulasi jumlah

    produk yang dikirimkan stage sebelumnya ke stage dibawahnya. Selain kartu

    delivery, terdapat pula kartu order, yang berfungsi sebagai media komunikasi

    pemesanan barang yang dilakukan stage dibawah kepada stage diatasnya. Pada

    setiap stage juga terdapat bagian-bagian khusus yaitu:

    Gambar 2.2 Komponen Suatu Stage

    Berdasarkan gambar diatas, terdapat beberapa bagian penyusun yang

    memiliki peran masing-masing, yaitu:

    1. Tempat untuk pesanan yang masuk (incoming order) yang berasal dari

    downstream stage (hilir) misal: Wholesaler.

    2. Tempat untuk pemesanan keluar (outgoing order) akan ke upstream

    stage (hulu) misal: Factory.

    3. Tempat untuk pengiriman barang masuk (incoming delivery) yang

    berasal dari upstream stage (hulu) misal: Factory.

    4. Tempat untuk pengiriman barang keluar (dispatch/outgoing delivery)

    akan ke tahap downstream stage (hilir) misal: Wholesaler.

    2.2 Mekanisme Beer Game

  • 5

    5

    Permainan ini memberikan gambaran umum bagaimana aliran informasi

    dan aliran pendistribusian barang pada suatu rantai pasok. Dalam permainan ini

    terdapat beberapa peraturan umum yang diberikan, antara lain:

    1. Dalam permainan ini tidak diperkenankan adanya komunikasi dan

    koordinasi antar stage dalam rantai pasok

    2. Permintaan pelanggan hanya diketahui oleh retailer.

    3. Jika stock tersedia (available), maka order harus dipenuhi.

    4. Jika stock tidak tersedia, maka item dimasukkan dalam backorder

    5. Pemenuhan pesananan dari downstream (hilir) akan dilakukan ketika

    stock sudah available.

    Tujuan dari permainan ini adalah untuk meminimalkan biaya keseluruhan

    dan dengan masih dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Selain itu manfaat dari

    permainan ini adalah memberikan gambaran umum bagaimana terjadi bullwhip

    effect pada suatu rantai pasok, sehingga kita dapat menganalisa bagaimana cara

    meminimalkan efek cambuk tersebut (bullwhip effect).

    2.3 Bullwhip Effect

    Bullwhip effect merupakan suatu kondisi ketika permintaan konsumen

    mengalami sedikit perubahan, dan perubahan tersebut akan menyebabkan fluktuasi

    yang tajam pada inventory dan keseluruhan level supply chain (Simchi-Levi, 1999).

    Bullwhip effect akan terjadi saat kesalahan presepsi atau ketidakpastian

  • 6

    6

    Gambar 2.3 Bullwhip Effect

    Hal-hal yang menyebabkan ketidakpastian permintaan dan menyebabkan

    efek bullwhip antara lain:

    a. Demand forecasting

    Bullwhip effect merupakan hasil dari suatu forecasting dan pengukuran

    suatu dampak (Hanssens, 1998). Perbedaan teknik forecasting yang

    menggunakan moving average dan eksponesial smoothing akan membuat

    terjadinya bullwhip effect (Chen, dkk, 1999).

    b. Lead time

    Retailer seharusnya melakukan suatu forecasting apabila terjadi dalam

    suatu periode lead time yang lama (Chen, 2000). Oleh karena itu baik lead

    time dan forecasting memiliki dampak terhadap bullwhip effect.

    c. Batch ordering

    Perubahan jumlah permintaan dari konsumen yang sedikit akan membuat

    retailer diatasnya memesan dalam jumlah yang lebih besar, begitu pula

    stage diatasnya. Jika dibandingkan satu perubahan permintaan konsumen

    akan melipat gandakan pada tahap paling atas, yang memiliki nilai

    variabilitas tinggi.

  • 7

    7

    d. Price fluctuation

    Fluktuasi harga terjadi karena adanya forward buy yang dilakukan antara

    supplier dan suatu perusahaan, sehingga terjadi suatu diskon atau rabat yang

    selanjutnya menyebabkan fluktuasi harga. Selain itu diskon yang diberikan

    dipasaran akan menyebabkan konsumen melakukan pembelian secara

    mendadak, sehingga akan terjadi perubahan permintaan yang akan

    menjadikan efek bullwhip.

    e. Inflated order

    Perubahan jumlah permintaan yang dilakukan oleh downstream yang tidak

    sesuai dengan jumlah biasanya, akan memberikan dampak yang besar

    kepada level diatasnya.

    Strategi untuk mengurangi bullwhip effect dan menghilangkan dampaknya

    adalah (Simchi-Levi, 1999):

    1. Reducing Uncertainty

    2. Reducing Variability

    3. Lead-time reduction

    4. Strategic Partnership

    2.4 Centralized Demand Information

    Merupakan suatu strategi aliran informasi yang diterapkan dalam suatu

    rantai pasok. Informasi permintaan dari konsumen dikumpulkan di suatu

    information center. Informasi yang masuk kedalam information center akan disebar

    luaskan disebarkan ke tiap tahap dalam rantai pasok. Selain informasi permintaan

    konsumen, proses pengambilan keputusan ada di information center juga

    disebarkan ke stages lainnya. Tipe ini biasa disebut dengan sistem terkoordinasi.

  • 8

    8

    2.5 Decentralized Demand Information

    Merupakan suatu strategi aliran informasi yang diterapkan dalam suatu

    rantai pasok. Informasi permintaan dari konsumen hanya diterima oleh retailer.

    Kemudian retailer melakukan forecast untuk pemesanan ke wholesaler, begitu

    seterusnya. Proses pengambilan keputusan ada di tiap tahap supply chain. Tipe dari

    sistem ini biasa disebut dengan tidak terkoordinasi.

  • 9

    9

    BAB III

    PEMBAHASAN

    3.1 Hasil Praktikum

    3.1.1 Stage: Retailer (Tidak terkoordinasi)

    Berikut ini adalah playsheet dari stage retailer pada permainan beergame

    tanpa adanya koordinasi antar setiap stage dalam rantai pasok.

    Tabel 3.1 Playsheet Stage Retailer dengan Tidak Terkoordinasi

    MODUL 2 - BEER GAME | SUPPLY CHAIN AND LOGISTICS ENGINEERING UGM

    Week Incoming

    Delivery

    Avail

    able

    Incoming

    Order

    To

    Ship

    Your

    Delivery

    Back

    order

    Inventory Your

    Order

    0 15 20

    1 15 6 6 6 0 9 5

    2 9 7 7 7 0 2 5

    3 15 17 16 16 16 0 1 20

    4 0 1 27 27 1 26 0 20

    5 15 15 58 84 15 69 0 30

    6 0 0 61 130 0 130 0 100

    7 15 15 45 175 15 160 0 80

    8 0 0 53 213 0 213 0 80

    9 40 40 91 304 40 264 0 100

    10 10 10 105 369 10 359 0 100

    11 30 30 46 405 30 375 0 100

    12 55 55 37 412 55 357 0 100

    13 20 20 63 420 20 400 0 100

    14 15 15 69 469 15 454 0

    Total 2807 27 14

    Total Biaya $5614 $27 $70

    Berdasarkan playsheet pada stage retailer, dapat disimpulkan bahwa

    retailer tidak dapat memenuhi pesanan dari customer pada minggu ke-4 sampai

  • 10

    10

    dengan minggu terakhir. Hal itu dapat dilihat dari adanya backorder (adanya

    sejumlah pesanan yang tidak terpenuhi) pada minggu-minggu tersebut. Penyebab

    utama adalah kurangnya komunikasi antar stage, pesanan dari retailer akan sampai

    di factory dalam waktu 3 minggu, sementara sebelum itu factory sudah

    memproduksi sejumlah barang sesuai dengan hasil forecast stage factory. Hal

    tersebut mengakibatkan meningkatnya order variability di setiap stage.

    Selain itu, kesalahan juga muncul ketika retailer hanya memperhatikan

    bagiannya sendiri. Ketika melihat pada stage tersebut ada backorder, retailer

    langsung melakukan order dalam jumlah besar tanpa memperhitungkan bahwa hal

    tersebut dapat mengakibatkan backorder pada stage lain.

    Kesalahan melakukan pemesanan ini berdampak pada jumlah backorder

    yang tinggi yaitu totalnya adalah 2807 unit, sehingga menyebabkan biaya

    backorder merupakan biaya paling besar dikeluarkan yaitu sebesar $5614,

    dibandingkan biaya inventori $27 sebesar. Selain itu, karena pada kondisi tidak

    terkoordinasi ini, pihak retailer tidak memikirkan dengan baik jumlah yang harus

    dipesan, berdampak pada jumlah pesanan yang banyak (seharusnya bisa ditekan)

    dan berakibat pada biaya pemesanan yang besar

    Tabel 3.2 Playsheet Stage Distributor dengan Tidak Terkoordinasi

    MODUL 2 - BEER GAME | SUPPLY CHAIN AND LOGISTICS ENGINEERING UGM

    Week Incoming

    Delivery Available

    Incoming

    Order To

    Ship

    Your

    Delivery Backorder Inventory

    Your

    Order

    0 15 20

    1 15 6 6 6 0 9 100

    2 9 7 7 7 0 2 100

    3 15 17 16 16 16 0 1 0

    4 0 1 27 27 1 26 0 0

    5 15 15 58 84 15 69 0 0

    6 0 0 61 130 0 130 0 0

    7 15 15 45 175 15 160 0 0

    8 0 0 53 213 0 213 0 10

    9 50 50 91 304 50 254 0 40

    10 60 60 105 359 60 299 0 50

    11 75 75 46 345 75 270 0 200

  • 11

    11

    12 40 40 37 307 40 267 0 0

    13 50 50 63 330 50 280 0

    14 200 200 69 349 200 149 0

    15 2117 27 7

    COST 4234 27 35

    Tabel 3.3 Perbandingan Tidak Terkoordinasi dan Terkoordinasi pada Stage

    Retailer

    Stage : Retailer

    Jumlah

    Backorder

    Jumlah

    Inventory

    Frekuensi

    Pemesanan

    Biaya

    Backorder

    Biaya

    Inventory

    Biaya

    Order

    Total

    Biaya

    Tidak

    Terkoordinasi 2807 27 14 $ 5.614 $ 27 $ 70 $ 5.711

    Terkoordinasi 2117 27 7 $ 4.234 $ 27 $ 35 $ 4.296

    Berikut adalah perbandingan antara kondisi retailer saat tidak terkoordinasi

    maupun saat terkoordinasi :

    1. Jumlah Backorder

    Jumlah backorder (jumlah pesanan yang kurang terpenuhi) saat terkoordinasi

    lebih sedikit daripada saat tidak terkoordinasi. Hal itu disebabkan, pada keadaan

    terkoordinasi, jumlah yang retailer pesan sudah rasional karena retailer mengetahui

    keadaan setiap stage.

    2. Jumlah Inventory

    Jumlah inventory sebelum koordinasi dan sesudah koordinasi adalah sama. Hal

    tersebut menunjukkan bahwa walaupun jumlah backorder sudah berkurang, namun

    dalam keadaan ini tetap saja retailer lebih sering tidak dapat memenuhi kebutuhan

    konsumen. Hal itu ditunjukkan dengan tidak adanya inventory dari minggu ke-4

    sampai dengan minggu ke-14. Sehingga dapat disimpulkan bahwa koordinasi yang

    dilakukan kurang efektif (tidak dapat menjangkau setiap stage).

    3. Frekuensi pemesanan

    Frekuensi pemesanan berhubungan dengan jumlah backorder. Seperti

    diketahui sebelumnya, bahwa jumlah backorder saat terkoordinasi lebih sedikit

    daripada saat tidak terkoordinasi. Hal itu dikarenakan pihak retailer lebih rasional

  • 12

    12

    dalam memesan, dalam artian ada kalanya retailer tidak perlu memesan. Hal tiu

    mengakibatkan jumlah pemesanan yang berkurang 50% antara terkoordinasi dan

    tidak terkoordinasi. Hal itu juga berdampak pada biaya pemesanan yang berkurang

    50% antara te...

Recommended

View more >