Bermain Gitar Untuk Keterampilan Pra Vokasional Pada Anak Tunanetra

  • Published on
    24-Oct-2015

  • View
    354

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : Sri Widati, http://ejournal.unesa.ac.id/

Transcript

<ul><li><p>Widati &amp; Saksono, Pelatihan Bermain Gitar </p><p> 57</p><p>BERMAIN GITAR UNTUK KETERAMPILAN PRA VOKASIONAL PADA ANAK TUNANETRA </p><p>Sri Widati &amp; Deny Tri Saksono </p><p>Abstract, The goals of this research increase pre vocational skill at blind children in SDLB-A YPAB Surabaya, add institute teaching material as ability of pre vocational skill for blind child and as future benefit and life of blind children in society.This research is pra experiment research which use research design is one group pre test and post test with technique analyze statistic non parametric with sign test ZH. This research use observation, interview, and test method in data collection.And the result of this research is obtained ZH value = 1,8 bigger than critical Z value 5% that is 1,64 so it refuses Ho, it can be concluded that give play guitar training can increase pre vocational at blind children in SDLB-A YPAB Surabaya.In this research, researcher give advice for parents to guide childs interest to special skill. By increasing the skill in non formal education (course); teachers should know through childs interest early and guide as a skill; and for blind children use their skill with play guitar continuously. </p><p>Kata kunci: Bermain gitar, keterampilan pra vokasional dan tunanetra </p><p>Pendidikan merupakan salah satu bentuk pelayanan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai perkembangan dan kemajuan zaman. Undang Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada bab IV pasal 5 ayat 1, Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, sedangkan ayat 2 dikemukakan bahwa Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. </p><p>Dengan demikian pendidikan tidak hanya untuk anak normal saja, tetapi juga untuk anak berkebutuhan khusus. Salah satu yang termasuk anak berkebutuhan khusus adalah anak tunanetra. Anak tunanetra mengalami gangguan pada indera penglihatannya, hal tersebut berdampak terhadap kehidupannya secara komplek, sehingga perkembangan intelegensi anak menjadi terhambat akibat dari ketunanetraannya. Padahal faktor penglihatan (visual) merupakan hal yang sangat penting dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari terutama yang berkaitan dengan indra penglihatan seperti pada anak normal lainnya. </p><p> Email : widati_plb@yahoo.com &amp; dani@yahoo.com. </p></li><li><p>JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1 </p><p> 58</p><p>Sebagai salah satu anggota masyarakat, anak tunanetra juga memiliki hak dan kewajiban untuk berperan aktif dalam lingkungan sosial, walaupun kecil peranannya mereka dapat diharapkan menyumbangkan tenaga atau pikiran untuk kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya sekalipun tidak selincah orang awas karena anak tunanetra merupakan bagian dari anggota masyarakat. </p><p>Keikutsertaan anak tunanetra dalam kegiatan di masyarakat akan memudahkan bersosialisasi dengan lingkungan dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi untuk menyesuaikan diri di masyarakat. </p><p>Diterimanya keadaan tunanetra di masyarakat, akan menghilangkan gangguan psikologi yang berupa rasa rendah diri, curiga pada orang lain dan mudah tersinggung, yang bisa menghambat perkembangan jiwanya. </p><p>Dengan hilangnya penglihatan, anak tunanetra dalam memperoleh informasi menggantungkan pada indra lain yang masih berfungsi. Dengan demikian indra yang tersisa seperti indra peraba, pendengaran, penciuman dan pengecap. Menurut Irham Hosni (1996;113) dikatakan Peningkatan ketajaman indra sangat diperlukan oleh seseorang tunanetra karena untuk pengenalan lingkungan dia sangat tergantung dari ketajaman indra dalam menerima informasi dari sekitarnya. </p><p>Untuk berperan aktif dan mampu menyumbang tenaga atau pekerjaan bagi anak diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus. Untuk itu diperlukan suatu keahlian khusussebagai bekal hidup dan kehidupan di tengah masyarakat. </p><p>Bagi anak tunanetra indera peraba memegang peranan sangat penting disamping indra lainnya. Karena indra peraba anak tunanetra dapat mengenal dunia luar melalui tangan. Untuk mengembangkan keindraan anak tunanetra dapat dilakukan melalui berbagai macam latihan. Salah satu usaha untuk mengembangkan keinderaan anak tunanetra adalah melalui pelatihan khusus dan intensif . </p><p> Gitar adalah alat musik petik berdawai senar. Gitar dapat menghasilkan melodi dan akor dalam jumlah dan variasi yang lebih banyak dibandingkan dengan alat musik lain (Asriadi, 2004:1). </p><p>Bicara tentang keterampilan vokasional pada anak tunanetra, gitar merupakan salah satu alat musik yang relatif cukup mudah dapat dilakukan oleh anak tunanetra karena untuk memainkan alat musik gitar lebih diperlukan indra pendengaran dan perabaan. </p><p>Dengan pelatihan bermain gitar dapat memberi bekal keterampilan pra vokasional dan bermanfaat bagi siswa untuk dapat hidup mandiri sesuai dengan kelainan yang disandang dan tingkat perkembangannya. </p><p>Berdasarkan survey di SDLB-A YPAB Surabaya bulan Februari 2007, di lembaga tersebut pemberian keterampilan khusus (pra vokasional) belum diberikan secara kontinyu. Dengan demikian penulis berasumsi pemberian keterampilan yang mengarah kepada pembekalan keterampilan atau keahlian khusus dapat menambah wawasan dan kemampuan anak tunanetra untuk </p></li><li><p>Widati &amp; Saksono, Pelatihan Bermain Gitar </p><p> 59</p><p>mendapatkan kehidupan dan penghidupan di masyarakat. Diharapkan dengan latihan bermain gitar secara kontinyu dapat menjadi suatu keterampilan khusus bagi anak tunanetra dan nantinya dapat menjadi bekal hidup dan kehidupan di masyarakat. Dengan memiliki keahlian khusus bermain gitar nantinya bisa menjadi alternatif untuk mencari nafkah bagi anak tunanetra, misalnya dengan menjadi seorang pengamen, pengiring musik di suatu acara ataupun di kafe, guru musik privat, dan lain-lain. </p><p>Sebagai warga masyarakat yang dianggap tidak normal, berkelainan atau menyimpang, maka anak berkebutuhan khusus termasuk tunanetra mempunyai beberapa permasalahan dalam aktivitas sehari-hari. Secara garis besar masalah tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (a) Masalah keterampilan sosial; Penyandang tunanetra juga akan senantiasa menghadapi masalah dalam mobilitas sosial. Ini disebabkan karena setiap menghadapi lingkungan baru, mau tidak mau diperlukan bantuan orang lain untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai lingkungan tersebut. Dengan gambaran yang jelas mobilitasnya akan menjadi lancar; Penyandang tunanetra juga akan menghadapi masalah komunikasi sosial. Hal ini disebabkan karena manusia sepanjang hidupnya tidak akan lepas dari komunikasi sosial ini, sangat diperlukan peran lingkungan atau peran orang tua; Pengaruh dari keterbatasan mobilitas sosial dan komunikasi sosial adalah kemandirian sosial. Penyandang tunanetra tidak bisa sepenuhnya lepas dari orang lain dalam kehidupan sehari-hari , terutama hal-hal dalam kegiatan yang menuntut peran fungsi penglihatan. (b) Masalah pekerjaan dan karir; Anak tunanetra dalam hal pekerjaan sangatlah bermasalah. Jika tersedia pekerjaan, tingkat persaingan untuk mendapatkannya sangat tinggi, sehingga perasaan putus asa selalu menghantui dirinya. Kondisi ini diperburuk lagi dengan kenyataan bahwa masih banyak dunia kerja yang belum menerima tenaga tunanetra walaupun mereka mempunyai keterampilan untuk itu. Masalah yang dianggap penting adalah pilihan jurusan atau pengerjaan harus dilakukan dengan mantap. Hal ini untuk menghindari perubahan pilihan di kemudian hari. Bagaimanapun kalau pada akhir usia dewasa, seseorang muda mengalami perubahan pilihan karir, sebenarnya sudah termasuk terlambat. Sebab memasuki karir baru berarti memulai awal lagi. Karena itu stabilitas pekerjaan ini akan menjadi masalah tersendiri bagi seseorang pada masa dewasa ini. Bagi penyandang tunanetra yang harus bekerja dalam lingkungan normal, masalah penyesuaian diri dengan pekerjaan ini lebih sulit (Somantri,2006). Disini faktor lingkungan sangat menentukan, terutama sejauh mana tingkat penerimaan sosial dan kesediaan untuk bekerja sama dengan mereka yang mengalami tunanetra. </p><p>Bagi para tunanetra, masalah yang dihadapi dalam bidang pendidikan meliputi (a) Masalah isi pendidikan; bagi penyandang tunanetra, isi pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus sesuai dengan perkembangannya. Disamping pendidikan yang bersifat umum, pendidikan yang spesifik perlu diperhatikan seperti pendidikan karier, pendidikan seks, pendidikan keluarga, dan sebagainya. (b) Masalah lokasi pendidikan, pendidikan bagi anak </p></li><li><p>JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1 </p><p> 60</p><p>tunanetra semestinya menganut system normalisasi pendidikan yaitu mereka belajar di sekolah- sekolah seperti orang normal belajar. Disini, banyak sekolah-sekolah yang dekat dengan tempat tinggal anak tunanetra yang tidak mau menerima penyandang tunanetra, sehingga mereka harus sekolah di tempat yang jauh dari tempat tinggal mereka. (c) Masalah sistem pengolahan proses belajar mengajar, sistem pengolahan proses belajar mengajar melalui pendidikan terpadu, memerlukan modifikasi dan kurikulum yang ada, sehingga dapat memenuhi kebutuhan individual penyandang tunanetra sesuai dengan karakteristik masing-masing peserta didik. (d) Masalah sarana dan prasarana, sarana dan prasarana pendidikan juga harus disesuaikan dengan keadaan dan karakteristik anak didik jika sekolah menyelenggarakan program pendidikan terpadu. Sekolah-sekolah normal/formal masih banyak yang belum menyediakan sarana khusus bagi penyandang cacat yang kemungkinan belajar di sekolah tersebut. Kondisi seperti ini berarti kurang mendukung kelancaran program pendidikan terpadu, khususnya bagi penyandang tunanetra. (e) Masalah evaluasi pendidikan, karena sistem pendidikan yang dikembangkan di sekolah umum adalah sistem klasikal, cara demikian berarti tidak menunjang sistem klasikal. Cara demikian berarti tidak akan menunjang system pembelajaran yang menggunakan pendekatan individual (Astatiti,1995). </p><p>Menurut Astatiti (1996:154) Pra vokasional adalah kegiatan yang dilakukan sebelum individu melakukan pekerjaan tertentu. Yang penting pada tahap ini adalah bagaimana individu memelihara alat, menggunakan alat, mengenal pekerjaannya, dan sebagainya. Keterampilan pra vokasional merupakan keterampilan yang berhubungan dengan suatu keahlian yang dapat mendatangkan imbalan atau penghasilan (Rochyadi, 2005:45). Adapun tujuan pelatihan keterampilan pra vokasional: (a) dapat menyumbangkan keterampilan dasar menjadi keterampilan kejuruan, (b) dapat menumbuhkan minat dan apresiasi terhadap semua keterampilan atau pekerjaan yang menggunakan tangan, disamping itu pendidikan keterampilan merupakan salah satu program penunjang dalam bidang orientasi dan rehabilitas di SLB-A, (c) dapat menjadi dasar pengembangan bakat dan kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri, (d) dapat menjadi sarana untuk mencari nafkah setelah siswa lulus dari sekolah dan sebagai bekal hidup dan kehidupan di masyarakat. </p><p>Pelajaran keterampilan sangat dibutuhkan oleh anak tunanetra. Hal yang sangat penting bagi tunanetra adalah trampil. Keterampilan yang dapat diberikan untuk anak tunanetra yaitu massage atau pijat, komputer dan bermain musik seperti piano, drum maupun gitar dan sebagainya. Jenis-jenis keterampilan ini yang masih memungkinkan dapat diberikan kepada anak tunanetra karena keterampilan tersebut dapat dilakukan oleh anak tunanetra tanpa harus mengandalkan fungsi indra penglihatan.Kenyataan di lapangan, banyak dijumpai seorang tunanetra memiliki profesi sebagai tukang pijat (massager) atau pemusik yang dapat digunakan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan di masyarakat. Untuk mempersiapkan anak tunanetra sebagai tenaga kerja yang siap pakai, </p></li><li><p>Widati &amp; Saksono, Pelatihan Bermain Gitar </p><p> 61</p><p>hendaknya diberikan keterampilan khusus sedini mungkin. Dengan keterampilan yang diperoleh sejak dini dapat digunakan oleh anak tunanetra sebagai bekal hidup dan kehidupan di masyarakat dan untuk mencari nafkah di masa yang akan datang. </p><p>Anak tunanetra mempunyai keterbatasan menerima rangsang atau informasi melalui indra penglihatannya. Penerimaan rangsang hanya dapat dilakukan melalui pemanfaatan indra-indra lain di luar indra penglihatannya. Karena kebutuhan anak untuk tetap mengenal dunia sekitarnya, maka indra pendengaran dan perabaan merupakan saluran utama penerima informasi yang paling dominan bagi anak tunanetra. Dengan indra pendengaran, anak tunanetra dapat menerima informasi dari luar yang berupa suara. Berdasarkan suara, anak tunanetra mampu mendeteksi dan menggambarkan tentang arah, sumber, jarak tentang suatu obyek informasi, ukuran serta kualitas ruangan. </p><p>Sedangkan dengan indra perabaan, anak tunanetra dapat mengenal dunia luar melalui tangan. Tunanetra dapat mengenal bentuk, posisi, ukuran, dan perbedaan permukaan melalui perabaan.Dengan dimilikinya indra pendengaran maupun perabaan yang masih normal dan selama koordinasi fisik/biologis tidak mengalami gangguan, anak tunanetra dapat melakukan ketrampilan-ketrampilan khusus, diantaranya bermain gitar.Melalui bermain gitar yang dilakukan secara rutin dan kontinyu serta terarah, maka indra pendengaran dan perabaan yang mereka miliki dapat berfungsi lebih dari orang awas yaitu lebih peka karena mereka dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan. Konsentrasi ini terbentuk karena matanya tidak dapat melihat, maka seluruh perhatiannya dapat berpusat pada apa yang sedang dipelajarinya karena perhatiannya tidak terpecah kemana-kemana.Dalam memainkan gitar anak tunanetra harus benar-benar terampil. Dengan mememiliki keterampilan bermain gitar, anak tunanetra mampu bersaing dengan masyarakat modern dalam mencari nafkah dan dapat menjadi lebih mandiri. Keterampilan bermain gitar tersebut dapat digunakan sebagai bekal hidup dan kehidupan di masyarakat. Banyak kita jumpai seorang tunanetra bisa hidup mandiri di masyarakat. Mereka dapat menghasilkan pendapatan sendiri meskipun indra penglihatannya tidak berfungsi. Ada yang menjadi penyanyi, tukang pijat, pemain musik bahkan bekerja dikantor sebagai operator telpon.Begitu juga dengan bermain gitar. Dengan adanya keterampilan bermain gitar, seorang tunanetra bisa memperoleh nafkah dari hasil bermain gitar. Mereka bisa menjadi pengamnen, pemain musik atau pengiring lagu di sebuah kafe maupun suatu acara. Dan jika sudah terampil dalam memainkan gitar, maka bisa digunakan sebagai mata pencaharian untuk menambah penghasilan yaitu dengan membuka atau memberi kursus keterampilan bermain gitar. </p><p>Berdasarkan latar belakang masalah ini, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Apakah pemberian latihan dasar-dasar bermain gitar dapat meningkatkan keterampilan pra vokasional pada anak tunanetra di SDLB-A YPAB Surabaya?; dengan tujuan pengkajian (1) Untuk meningkatkan keterampilan pra vokasional pada anak tunanetra di SDLB-A YPAB Surabaya, </p></li><li><p>JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1 </p><p> 62</p><p>(2) Untuk menambah materi ajar pada lembaga sebagai kemampuan keterampilan pra...</p></li></ul>